Archive for the ‘ Uncategorized ’ Category

sato dugem dan jadi sapuluh lambar

Berikut ini adalah dua humor lucu bahasa sunda yang saya cuplik dari Majalah Cakakak Nomor 6 tahun 2010. Ada banyak cerita lucu di majalah humor basa sunda seharga Rp. 12.500 tersebut, dan cerita lucu berjudul Sato Dugem dan Jadi Sapuluh Lembar menurut saya termasuk yang paling orisinil.
Sato Dugem bercerita tentang para hewan yang saling bertukar cerita sepulang dari diskotik lengkap dengan musik keras & lampu-lampu warna-warninya. Mereka saling bercerita tentang “bencana” yang dialami masing-masing hewan terkait dengan fisiknya.

Sebenarnya dari awal cerita hingga tengah isinya biasa-biasa saja. Namun tendangan lucunya terasa di alinea terakhir. Di penutup cerita ditampilkan keluhan seekor hewan yang lain daripada yang lain yang bisa membuat Anda tertawa geli.

Penulis humor tersebut berhasil menemukan seekor hewan unik dihubungkan kondisi unik yang ada di diskotik, jadilah sebuah paragraf “kojo” yang sangat nendang di akhir cerita. Cerita ini bisa juga dijadikan nasehat buat anak-anak supaya jangan suka dugem biar gak kaya si hewan unik itu.
^_^
Anak-anak adalah tema favorit para pembuat humor. Saya menemukan humor anak-anak dikelompokkan secara terpisah di Majalah Reader Digest, dan kini juga pada bab tersendiri berlabel Humor-humor Kang Suryana Sarimbit oleh Taufik Faturohman di Majalah Cakakak.

Memang kenaifan anak-anak di keseharian mereka — misalnya terkait cara mereka mendapatkan sesuatu yang diinginkan — adalah gudang bahan baku humor yang siap diolah menjadi ramuan humor yang menggigit. Bahkan kadangkala tingkah laku alami anak-anak-pun sudah cukup lucu untuk ditampilkan menjadi sebuah cerita humor.

Humor berjudul Jadi Sapuluh Lambar menceritakan kenaifan seorang anak kecil yang menemukan dompet berisi uang seratus ribu rupiah. Si anak ini jujur, namun dia juga ingin mendapat uang jajan dari kebaikannya mau mengembalikan dompet pada pemiliknya. Ramuan dua hal itu ternyata bisa menjadi sebuah humor yang nendang.
SATO DUGEM
Balik dugem ti diskotik, sato-sato ngarariung. Katenjo maranehna jiga geus balik perang wae.
“Kapok uing mah euy, geuning teu ngeunah dugem teh. Eta musik ajeb-ajeb matak katorekan kana ceuli!”, ceuk kelinci ngararasakeun ceulina nu dungdeng keneh.
“Mending keneh maneh, uing mah bororaah bisa joged. Hayoh we cungcet-cingcet sieun katincak ku nu keur ajojing!”, ceuk sireum, bari awakna pias.
“Komo uing mah, hayoh we diusir satpam. Di cenah meakkeun tempat!”, ceuk gajah jeung Kuda Nil.
“Kuring mah geleuh ku lagu disco mixna. Cik atuh tong nyindiran uing wae euy…mani keong racun lagu teh! Padahal kuring mah apan resepna musik disko ti DJ Tiesto atawa DJ Deep Dish!” ceuk Keong Racun nafsu.
“Ah, dikumaha oge maraneh mah bisa ngasaan ka jero diskotik. Uing mah karek nepi na lawang ne geus nutup manten! Padahal indit ti imah minggu kamari”, ceuk Kuya bangun nu handeueul.
“Waduuuuh, sarua euy. Eta mah uing kuat ka error yeuh kulit. Eta lampu disko gunti-ganti wae warna!”, ceuk londok, nu awakna ayeuna ngadadak jiga katumbiri. (Ning – Baraya Banyolan Sunda – Malaysia – Majalah Cakakak)

Catatan:
Hehehe Si bunglon kasihan tuh kulitnya jadi eror.
Makanya belajar saja di rumah jangan suka dugem.

JADI SAPULUH LAMBAR

Balik sakola Ocad manggih dompet di jajalaneun ka imahna. Ku Ocad dicokot. Ku lantaran Ocad mah budak jujur, eta dompet teh dianteurkeun ka nu bogana. Kebeneran deuih di jerona aya KTP. Singhoreng, eta teh dompet Pa Haji Abdul, tetanggana. Nya dompet teh dianteurkeun we ka Pa Haji Abdul.

 

“Pa Haji, ieu dompet Pa Haji sanes?” ceuk Ocad bari mikeun dompet.
“Enya, puguh Pa Haji teh leungit dompet. Ti mana kapanggihna ku Ocad?”
“Itu, di handapeun tangkal cengkeh, payuneun bumi Mang Didin,” tembal Ocad.
Dompet ditampanan ku Pa Haji Abdul. Dibuka, eweuh nu leungit. Duitna aya keneh, saratus rebu.
“Euweuh nu leungit. Ngan naha nya, da tadina mah duit Pa Haji teh seratus rebu salambar, ayeuna bet jadi sepuluh rebuan sapuluh lembar?” ceuk Pa Haji Abdul bari kerung.

“Ku abdi dilironkeun Pa Haji. Atuda kamari oge abdi mendakan dompet, dipasihkeun ka nu kagunganana, abdi teu janten kenging peresenan. Ari alesanana teh teu aya artos receh cenah,” tembal Ocad kalem (Taufik Faturorahman – Majalah Cakakak)

Advertisements

cerpen(cinta sejati)

Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).

Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.

Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.

Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah!
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…

Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal…
Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…

…dan Ami kemudian pingsan…

Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.

Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.

Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.

Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.

Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.

Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.

…tiga bulan kemudian…

Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.

Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.

Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.

Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.

Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.

Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.

Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.

Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.

Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.

…beberapa bulan setelah menikah…

Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.

Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.

Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…

Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.

Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya.

my profil’s

 

 

nama: ary p

ttl: madiun,20 oktober 1992

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!